Sains dan kemajuan bangsa

•March 15, 2007 • Leave a Comment

Akhir-akhir ini china mengejutkan dunia dengan kemajuan teknologi, militer dan pertumbuhan ekonominya yang pesat. Bahkan 12 januari lalu china berhasil menembakan senjata anti satelit di atas atmosfer bumi. Kira2 apa rahasianya? Ternyata salah satu kuncinya adalah pembangunan china yang melandaskan pada kemajuan sains dan teknologi. ìberbanjar menuju sains!!î demikian jargon deng xiaoping yang digencarkan sejak 30 tahun silam. Kini dengan gerak bersama seluruh elemen, china tlah menjadi raksasa baru di asia.

Sains dan teknologi merupakan salah satu pilar yang harus dikokohkan jika suatu Negara akan maju. Jika kita ingin memajukan sains dan teknologi di Indonesia, ada beberapa langkah yang harus diambil menurut saya :

1. reformasi sistem pengajaran sains dan matematika : sains seharusnya diajarkan agar siswa suka mengamati fenomena/realita alam dan terlatih untuk jeli dan mengambil kesimpulan dari realita yang ia lihat. Namun dalam prakteknya sains sering diajarkan sebagai hapalan rumus belaka. Jika sains diajarkan secara benar, maka akan terbentuk generasi yang berpikir rasional dan terlatih untuk jeli mangamati realita serta mengambil kesimpulan awal dari realita yang ia amati. Langkah pertamanya adalah peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.

2. kebijakan pemerintah untuk lebih menghargai kaum saintis. Ilmuwan adalah profesi yang jarang menjadi cita-cita siswa. Bargain ilmuwan perlu lebih ditinggikan lagi oleh pemerintah.

3. pem-budayaan sains : saat pemerintah china berkomitmen untuk mengkampanyekan sains, tugas ini diembankan pada mentri kebudayaan dengan memanfaatkan seluruh lini media, buku dll. Hal lainya adalah menumbuhkan kompetisi sains sejak dini.

4. kerjasama 3 pihak (universitas/lembaga riset, pemerintah dan industri) : pada akhirnya teknologi terapan sains tidak terlepas dari industri. Pemerintah harus membuat regulasi untuk meningkatkan produktivitas riset universitas/lembaga riset (terutama riset yang menyangkut masalah vital Indonesia seperti ketahanan pangan dan energi) dan jaminan saling menguntungkan antara universitas, pemerintah serta pihak industri yang akan memproduksi teknologi.

5. penyiapan sumber daya manusia : lagi2 bisa kita teladani komitmen china yang sejak tahun 80an gencar mengirimkan mahasiswanya belajar keluar negeri (program cuspea) dan kini menuai hasilnya dengan ribuan profesor yang siap mendedikasikan ilmunya untuk negerinya.

6. pemberdayaan unit usaha kecil/menengah : Indonesia memiliki banyak unit usaha kecil/menengah . peran mereka perlu dioptimalkan dalam pembangunan sains dan teknologi. Contohnya adalah pembangunan industri rumah tangga biodiesel.

7. kebijakan anggaran : tidak bisa dipungkiri bahwa riset butuh dana besar. Hal inilah yang perlu pemerintah lakukan dengan menyediakan anggaran lebih untuk riset atau mengoptimalkan kerjasama saling menguntungkan dengan pihak swasta.
Kesadaran akan arti penting sains dan teknologi harus ditanamkan kepada semua elemen. Bisa kita mulai di itb ini..
-zulkaida akbar-
Vote izul for presiden km itb

Lihatlah petani kita..

•March 15, 2007 • Leave a Comment

Bukankah sebuah ironi ketika Indonesia yang masih ber-platform sebagai Negara agraris harus terus menelan pil pahit impor beras setiap tahunnya?apa yang salah?
Saat ini 60 % penduduk Indonesia masih bekerja di sektor pertanian, kebanyakan bukan sebagai petani melainkan sebatas buruh tani yang tidak memiliki tanah dan berpenghasilan rendah. Oleh karena itu mereka berusaha mencari penghasilan lain, akibatnya produktivitas pertanian rendah akibat tidak totalitasnya mereka mengolah lahan. Hal ini diperparah dengan hilangnya lahan pertanian sekitar 300000 hektar pertahunya. Lahan ini berubah menjadi rumah, toko dll. Nampak sekali ketiadaan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga lahan pertanian sehingga wajar jika produktivitas lahan kian tahun kian menurun.

Ada Negara yang maju karena industrinya, ada pula Negara yang maju karena ekspor hasil buminya. Saya pikir perlu ditanamkan sebuah paradigma untuk menguatkan perekonomian nasional dengan basis utama pertanian dan kelautan. Namun bukan berarti kita meniadakan sama sekali industri lainnya. Saya pikir sebuah ironi ketika kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa namun kita berfokus dan menitik beratkan untuk menjadikan Indonesia sebuah Negara industri seperti jepang atau jerman.

Tiba-tiba saya teringat janji SBY untuk melakukan land reform dengan membagikan sekian (tepatnya saya lupa) hektar kepada para petani. Entah apakah hal ini sudah dilakukan ataukah belum, namun hal ini memang mutlak harus dilakukan untuk kesejahteraan petani. Bagi saya lucu ketika di areal sebuah perkebunan, masyarakat yang sudah turun temurun tinggal disana tetapi mereka tidak memiliki kebun yang mereka pijak karena dimiliki perusahaan x dan mereka hanya bekerja sebagai buruh rendahan saja.

Kebanyakan petani di desa masih berpikiran terlampau ìsederhanaî. Bagi mereka sukses adalah :îyang penting anak saya bisa sekolah sampai smu..î ,îyang penting saya sudah punya satu motor meski itu kreditî. Mereka pun belum memiliki kesadaran untuk menabung dan menambah modal. Jelas bahwa upaya penyadaran yang terorganisir harus dilakukan pemerintah dan ini adalah langkah awal yang harus segera dilakukan. Harapannya adalah petani memiliki kesadaran untuk memiliki produktivitas lebih dengan langkah yang terencana.

Idealnya setiap wilayah pertanian memiliki sekolah dan puskesmas gratis bagi keluarga petani. Kemudian harus ada koperasi atau semacamnya yang menjamin distribusi pupuk, pestisida yang murah. Koperasi ini juga berfungsi menjamin akses pasar agar petani tidak terjerat tengkulak yang tega membeli dengan harga x dan menjualnya dengan harga 5x.

Bertani adalah hal yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang kita dulu. Kita tlah mengenal sistem pergiliran tanam, tumpang sari ataupun subak yang ternyata bisa mengantarkan kita pada swasembada pangan dan keadilan bagi petani. Mungkinkah kearifan tradisional seperti ini telah hilang?

Mungkin saya hanya menyodorkan permasalahan. Tapi sebagai calon2 pemimpin bangsa di masa mendatang, wajib bagi kita memiliki kesadaran untuk mengembalikan kejayaan Indonesia tanpa melupakan kearifan nenek moyang dan identitas kita.

-zulkaida akbar-
Vote izul for presiden km itb

Lihatlah lebih dekat….

•March 15, 2007 • Leave a Comment

Hanya sekedar mengingatkan bahwa dibalik tembok nama besar ITB ada 600an sekolah terbuka antah berantah yang dikelola oleh yayasan entahlah. Sekolah tanpa perpustakaan,tanpa ekstrakurikuler, beberapa tanpa gedung,tanpa buku dan pada akhirnya tanpa harapan.

Hanya sekedar mengingatkan tahun lalu ada seorang fifi yang bunuh diri gara-gara tak mampu bayar spp. Setelah sebelumnya ada suprijadi yang menggotong mayat anaknya chairunnisa dibawa kabur dari rumah sakit gara-gara takut tagihan ruma sakit..

Hanya sekedar mengingatkan bahwa beberapa waktu lalu pemerintah mengimpor setengah juta ton beras saat harga beras  mencapai 8500/kg. dengan 60 persen rakyat Indonesia masih bekerja di sector pertanian sebagai buruh tani miskin. Ditambah 300000 hektar lahan musnah per tahun
Hanya sekedar mengingatkan… tak enak rasanya nasi aking…

…… Membangun paradigma : pendidikan,pertanian,energi,ekonomi kerakyatan

Saya yakin tidak ada yang tidak setuju jika saya mengatakan bahwa pendidikan adalah fondasi mendasar jika sebuah bangsa ingin jaya. Apalagi ditengah realita duka terkait bea sekolah yang makin menjulang, gedung2 SD yang makin meretak dan pendidikan yang berkonsep “gaya bank” dan sangat tidak humanis. Pendidikan yang tidak sesuai dengan makna filosofinya serta tidak menjangkau semua. Apakah kita masih ingin mendengar kisah2 anak bunuh diri gara2 tak mampu bayas spp atau uang ekstrakurikuler Rp 2500…?

Disaat kita masih berlabel sebagai Negara agraria dengan mayoritas penduduk bekerja di sector pertanian, kita harus menelan pil pahit impor beras. Disaat kita dulu pernah swasembada beras, ternyata sekarang nasi aking merajalela. Disaat kita terbuai dengan kata pembangunan, 300.000 Ha lahan musnah per tahunnya…. Apa yang salah?

Koes Ploes bilang bahwa negeri kita adalah negeri surga. Namun apakah kita memiliki dan menikmati surga yang ada di perut ibu pertiwi kita? Benarkah kita bebas menikmati minyak yang ada dibawah kita?ataukah kita adalah negeri terjajah dalam hal pengelolaanya…. Gelisahkah kita jika mendengar hampir tiap hari ada pemadaman listrik di Sulawesi dll. Saya coba membayangkan dan berandai – andai : “ Suplai Listrik di NTB di pasok dari GeoThermal yang dikelola masyarakat sekitar, Suplai Listrik di Bandung dipasok dari Nuklir yang dikelola masyarakat sekitar, suplai listrik di semarang dan daerah pesisir utara dipasok dari energi laut yang dikelola masyarakat sekitar.. Saya membayangkan maka masyarakat Indonesia akan menjadi Pintar. Isu Energi bisa menjadi batu loncatan mencapai visi kekokohan pilar sains dan teknologi Indonesia.

Sebuah Ironi ketika Pemerintah berkata telah meningkatkan Ekonomi Indonesia dengan parameter pertumbuhan ekonomi naik sekian persen,Tingkat Inflasi sekian persen BI Rate sekian…. Sementara Kompas berkata bahwa di NTB ada busung lapar, Pikiran Rakyat Bilang bahwa beberapa desa di Cirebon masyarakatnya mulai mengkonsumsi nasi aking…apa yang salah?Sangat bermasalah ketika pemerintah atau siapapun terlalu berpijak pada ekonomi makro. Perlu ditawarkan paradigma ekonomi kerakyatan. Ekonomi yang bertumpu dan focus pada pemberdayaan koperasi, sector riil, petani, perkebunan dan unit usaha kecil dan menengah tanpa mengabaikan kestabilan ekonomi makro tentunya… -zulkaida akbar-
Vote izul for presiden km

Kami cinta Indonesia…. (bagian 2)

•March 15, 2007 • Leave a Comment

Identitas ke-indonesiaan yang kokoh merupakan langkah awal. Selanjutnya adalah adanya cita-cita dan pemikiran untuk memperbaiki kondisi Indonesia. Mahasiswa itb dalam sejarahnya dan mungkin kedepanya adalah calon orang-orang yang memimpin 300 juta rakyat Indonesia. Km itb mengemban amanah mempersiapkan insan akademis yang insyaf akan tanggung jawabnya seperti tertera dalam konsepsi km itb. Dengan kata lain km itb juga berfungsi sebagai wadah pengkaderan bagi mahasiswa.

Mahasiswa hendaknya tanggap dengan permasalahan nasional. Kemudian dia berpikir solutif atas permasalahan tersebut sesuai dengan potensi yang dimiliki. Dari berbagai permasalah yang dimiliki Indonesia, salah satunya adalah kemandirian energi.

Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan kebijakan pemerintah yang menaikan harga bbm. Memang di satu sisi saya berpikir bahwa sebuah generasi yang bodoh jika terus menerus bergantung pada sumber energi fosil yang pasti akan habis. Namun, alangkah baik jika mahasiswa itb berpikir bagaimana seharusnya permasalahan energi ini dipecahkan sehingga Indonesia mampu mencapai kemandirian energi.

Indonesia punya banyak sekali potensi, demikian juga itb untuk memecahkan masalah ini. Kita memiliki prodi teknik perminyakan dan pertambangan yang memiliki wawasan lebih tentang resources energi fosil. Kita memiliki fisika yang memiliki wawasan lebih tentang nuklir. Ada juga biologi dengan bioenergy, teknik kimia dengan mikrohidro dan biofuel, geofisika dengan geothermal, oseanografi dengan energi arus laut, elektro dengan efisiensi daya dan teknik lingkungan dengan konsep analisis pembangunan energi terhadap lingkungan hidup. Yang ingin saya tegaskan adalah isu kemandirian energi bisa merangkul berbagai elemen km itb (meski tidak semua) untuk membuat sebuah konsep bersama dalam rangka mewujudkan kemandirian energi di Indonesia.

Dalam tataran program kerja saya bercita-cita membuat lokakarya energi. Disana kita duduk bersama, membayangkan bahwa kita adalah sorang mentri energi dan sumberdaya mineral yang sedang merumuskan kebijakan. Hasilnya adalah sebuah usulan konsep kepada pemerintah dan pewacanaan kepada elemen luar.

Titik tekan dari semuanya yakni kita mencoba berpikir layaknya seorang negarawan berpikir. jika kita adalah calon2 pemimpin bangsa maka kita harus terbiasa untuk membuat visi jangka panjang dan terlatih sebagai seorang problem solver untuk merumuskan konsep dalam rangka mencapai visi tersebut.

Dalam konsepsi disebutkan bahwa seorang insane akademis berarti dia mau mencari dan membela kebenaran ilmiah. Ilmiah berarti ada landasan logis dalam setiap aktivitas. Kultur ilmiah perlu untuk ditingkatkan dengan menggiatkan aktivitas membaca, menulis, diskusi dan dialog. Semua aktivitas tersebuat bermuara pada pembentukan pola pikir. Hal ini adalah tools untuk berpikir memecahkan berbagai permasalahan. Dalam tataran program kerja, beberapa hal yang ingin saya wujudkan adalah pekan baca tulis, diskusi panel dan mimbar bebas yang dilaksanakan rutin serta penerbitan jurnal mahasiswa itb berkala.

Tidak ada revolusi tanpa revolusi pemikiran – stalin
 -zulkaida akbar-
Vote izul for presiden km itb

Kami cinta Indonesia…

•March 15, 2007 • Leave a Comment

Huntington dalam tesisnya benturan antar peradaban mengatakan bahwa empat peradaban besar yakni islam, barat, china dan India akan senantiasa berbenturan. Menurut saya empat peradaban besar ini menjadi besar karena masing masing memiliki identitas yang jelas. Islam dengan ideologinya yang mencakup seluruh aspek hidup, barat dengan teorinya tentang penjunjungan hak2 individu, china dan India dengan nilai2 luhur nenek moyangnya.

Bahkan salah satu hal yang membuat Hitler suatu saat mengancam eropa adalah keberhasilan dia dalam mendoktrinkan identitas ke-jermanan yang kuat di kalangan anak mudanya. Saya berkesimpulan bahwa untuk dapat memajukan Indonesia maka langkah awalnya adalah menguatkan identitas ke-indonesiaan pada rakyat Indonesia terutama di kalangan mahasiswanya karna Indonesia 30 tahun kedepan bergantung pada kondisi mahasiswa dan kemahasiswaan saat ini (termasuk kemahasiswaan itb).

Kemahasiswaan itb tidak mungkin terlepas dari konteks ke-indonesiaan. Sejarah membuktikan peran segelintir mahasiswa tempo dulu dalam perebutan kemerdekaan. Benar bahwa kemahasiswaan berperan dalam pemenuhan kebutuhan. Namun mengutip kata teman saya :”terlalu kufur nikmat jika kemahasiswaan hanya sekedar upaya pemenuhan kebutuhan mahasiswanya”, dengan kata lain kemahasiswaan adalah upaya terorganisir dalam melaksanakan tanggung jawab mahasiswa kepada bangsa dan negaranya.

Apa itu Indonesia? Pertanyaan ini merupakan simpul awal kalau kita ingin menemukan identitas ke-indonesiaan kita. Sejauh mana pancasila sudah menjadi identitas kita? Saya ingin menarik sudut pandang identitas dari sisi budaya. Sejauh mana kita sadar bahwa kita memiliki budaya luhur dan bangga terhadapnya?benar bahwa saya sebagai orang jawa memiliki wayang kulit namun apakah kita memaknai wayang kulit sebagai budaya Indonesia lebih dari sekedar budaya jawa? Di sisi lain apakah kita lebih mengenal jendral napoleon dibanding patih gadjah mada?

Keluarga mahasiswa itb memiliki unit2 seni budaya diantaranya. saya pikir teman2 yang berkegiatan dalam unit2 budaya ini memiliki wawasan lebih, terkait budaya di suatu tempat. Saya bercita-cita untuk membuat kegiatan dengan bekerjasama dengan seluruh unit budaya dengan tujuan berbagi wawasan budaya kepada seluruh mahasiswa itb. Tidak hanya sekedar bentuk fisik budaya semisal tarian atau musik daerah tetapi juga potensi lokal dan kearifan tradisional yang ada semisal dalam legenda, mitos atau cerita rakyat. Betapa mahabarata mengajarkan kita untuk bersikap sebagai seorang ksatria.. betapa sutasoma mengandung bhinneka tunggal ika dan betapa sastra lisan riau mengajarkan kita untuk bersahabat dengan alam dan bersikap rendah hati… masih banyak lainnya.

Bermula dari tahu, berakhir dengan bangga. Itulah cita-cita saya… ketika kita telah memiliki kebanggan terhadap Indonesia maka dengan sendirinya akan muncul cita-cita untuk membangun Indonesia. Dan ketika ini berawal dari itb maka lambat laun akan tertular ke elemen lain (luar itb).

Aku ingin mengatakan dengan lantang bahwa : “aku Indonesia”

 -zulkaida akbar-
Vote izul for presiden km itb