Warung Kopi..

Jika Seorang Mahasiswa mampu memiliki indeks prestasi di atas 3, maka pertama-tama pastilah dia seorang yang pandai mengelola waktunya dengan baik. Apalagi, jika kegiatannya tidak hanya seputar kuliah. Menjadi ketua himpunan, misalnya. Atau menjadi komandan lapangan OSKM. Atau menjadi tutor pada mata kuliah Fisika Kuantum, Fisika MOdern, dan Fisika Statistik.

Itulah yang bisa ditemukan pada Zulkaida Akbar alias Ijul, salah satu kandidat Presiden KM ITB 2007. Dengan segala kesibukannya itu, dia masih bisa mencatatkan angka 3,09 di kolom IP pada transkrip akademiknya. Padahal ketika menjabat ketua himpunan, hampir 1/2 hidupnya dihabiskan di kampus.

Di warung kopi Tampomas pagi itu kami ngobrol.Ijul bercerita soal apa yang hendak dia kerjakan, apabila dirinya menjadi Presiden KM. Apa visi misinya, Sebuah pembicaraan yang buat saya sih, pada mulanya membosankan. Maksud saya, hari gini pasang visi “Kami Cinta Indonesia”? Apa nggak basi ya?

“Aku tuh percaya anak ITB suatu hari nanti akan menjadi orang besar. Entah menteri, pejabat, atau presiden. Dan aku pengen mereka nanti bersikap layaknya seorang negarawan. Yang mengerti kondisi bangsa, punya sense of crisis, dan bisa mewujudkan cita-cita. Maka itu aku juga mengusulkan perubahan paradigma.” Ijul menjelaskan dengan kalem.

Lalu bagaimana dengan misi “Berpikir, Bergerak, Bersama-sama”?

“Itu artinya aku pengen kita semua benar-benar menyatu sebagai satu ITB. Ada banyak potensi yang berserakan, dan menurutku peran KM-lah untuk mengumpulkannya. Kabinet dalam bayanganku akan lebih sebagai koordinator, yang bertanya kepada elemennya ‘kami bisa banyu apa?’ “

Putra Purwokerto ini lalu menambahkan, di kabinetnya kelak tidak akan ada Departemen Sosial Politik. Supaya urusan demonstrasi tidak hanya digawangi oleh Sospol dan “yang demo cuma anak Sospol doang.”

Sampai sini saya menjadi tertarik. Perubahan paradigma mahasiswa yang tadi disinggung Ijul, adalah semacam pergeseran pola berpikir yang dimiliki mahasiswa saat ini. “Kebanyakan mahasiswa sekarang berpikir selayaknya mandor pengawas,” kata Ijul. Itulah sebabnya, pergerakan yang dijalankan lebih sering berupa demonstrasi dijalanan. Harga bensin naik, demo. Impor beras, demo.

“Aku berpikir lebih baik mahasiswa lebih baik berpikir seperti arsitek perancang. Daripada melakukan demonstrasi soal harga bensin, kita justru akan melakukan kajian soal energi alternatif dan menyodorkan kepada pemerintah. Kita bisa bilang ke Menteri ESDM : semsetinya Indonesia bangun reaktor nuklir, misalnya.”

Dalam pandangan Ijul, setidaknya ada lima isu utama yang dihadapi bangsa ini, yang bisa dibahas mahasiswa sebagai arstiek perancang. Mereka adalah pendidikan, kemandirian energi, ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan dan nilai-nilai budaya.

Semua-semua ini akan dibahas bersama dan berujung pada sebuah program yang melibatkan mahasiswa lintas himpunan. Misalnya, program Farmasi Pedesaan dipadukan dengan perbaikan infrastruktur desa Teknik Sipil. Dan Teknik Elektro untuk masalah kelistrikan. Apapun, yang penting, “Bergerak, Berpikir, dan Bersama-sama.”

Setelah membayar kopi, kami lalu pergi. Perjalanan masih panjang…    

  

Advertisements

~ by zulkaidaakbar on March 12, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: