Lihatlah petani kita..

Bukankah sebuah ironi ketika Indonesia yang masih ber-platform sebagai Negara agraris harus terus menelan pil pahit impor beras setiap tahunnya?apa yang salah?
Saat ini 60 % penduduk Indonesia masih bekerja di sektor pertanian, kebanyakan bukan sebagai petani melainkan sebatas buruh tani yang tidak memiliki tanah dan berpenghasilan rendah. Oleh karena itu mereka berusaha mencari penghasilan lain, akibatnya produktivitas pertanian rendah akibat tidak totalitasnya mereka mengolah lahan. Hal ini diperparah dengan hilangnya lahan pertanian sekitar 300000 hektar pertahunya. Lahan ini berubah menjadi rumah, toko dll. Nampak sekali ketiadaan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga lahan pertanian sehingga wajar jika produktivitas lahan kian tahun kian menurun.

Ada Negara yang maju karena industrinya, ada pula Negara yang maju karena ekspor hasil buminya. Saya pikir perlu ditanamkan sebuah paradigma untuk menguatkan perekonomian nasional dengan basis utama pertanian dan kelautan. Namun bukan berarti kita meniadakan sama sekali industri lainnya. Saya pikir sebuah ironi ketika kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa namun kita berfokus dan menitik beratkan untuk menjadikan Indonesia sebuah Negara industri seperti jepang atau jerman.

Tiba-tiba saya teringat janji SBY untuk melakukan land reform dengan membagikan sekian (tepatnya saya lupa) hektar kepada para petani. Entah apakah hal ini sudah dilakukan ataukah belum, namun hal ini memang mutlak harus dilakukan untuk kesejahteraan petani. Bagi saya lucu ketika di areal sebuah perkebunan, masyarakat yang sudah turun temurun tinggal disana tetapi mereka tidak memiliki kebun yang mereka pijak karena dimiliki perusahaan x dan mereka hanya bekerja sebagai buruh rendahan saja.

Kebanyakan petani di desa masih berpikiran terlampau ìsederhanaî. Bagi mereka sukses adalah :îyang penting anak saya bisa sekolah sampai smu..î ,îyang penting saya sudah punya satu motor meski itu kreditî. Mereka pun belum memiliki kesadaran untuk menabung dan menambah modal. Jelas bahwa upaya penyadaran yang terorganisir harus dilakukan pemerintah dan ini adalah langkah awal yang harus segera dilakukan. Harapannya adalah petani memiliki kesadaran untuk memiliki produktivitas lebih dengan langkah yang terencana.

Idealnya setiap wilayah pertanian memiliki sekolah dan puskesmas gratis bagi keluarga petani. Kemudian harus ada koperasi atau semacamnya yang menjamin distribusi pupuk, pestisida yang murah. Koperasi ini juga berfungsi menjamin akses pasar agar petani tidak terjerat tengkulak yang tega membeli dengan harga x dan menjualnya dengan harga 5x.

Bertani adalah hal yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang kita dulu. Kita tlah mengenal sistem pergiliran tanam, tumpang sari ataupun subak yang ternyata bisa mengantarkan kita pada swasembada pangan dan keadilan bagi petani. Mungkinkah kearifan tradisional seperti ini telah hilang?

Mungkin saya hanya menyodorkan permasalahan. Tapi sebagai calon2 pemimpin bangsa di masa mendatang, wajib bagi kita memiliki kesadaran untuk mengembalikan kejayaan Indonesia tanpa melupakan kearifan nenek moyang dan identitas kita.

-zulkaida akbar-
Vote izul for presiden km itb

Advertisements

~ by zulkaidaakbar on March 15, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: